Website perusahaan sering dianggap selesai ketika desain sudah terlihat profesional dan seluruh halaman dapat dibuka dengan baik. Padahal, tampilan visual hanya salah satu bagian dari website. Struktur informasi, pengalaman pengguna, performa, teknologi, hingga cara website mendukung tujuan bisnis ikut menentukan apakah website tersebut benar-benar berfungsi dengan baik.
Kesalahan dalam tahap awal pengembangan juga dapat menimbulkan masalah yang baru terlihat setelah website diluncurkan. Perbaikannya kemudian membutuhkan waktu dan biaya tambahan, terutama jika struktur yang sudah dibuat harus diubah secara menyeluruh.
Berikut beberapa kesalahan yang perlu diperhatikan ketika merencanakan dan membuat website perusahaan.
Tidak Menentukan Tujuan Website Sejak Awal
Website yang dibuat tanpa tujuan yang jelas cenderung memiliki terlalu banyak informasi tetapi tidak memiliki arah yang kuat.
Perusahaan mungkin memasukkan profil, layanan, portfolio, berita, galeri, dan berbagai informasi lain karena semuanya dianggap perlu. Namun, pengunjung akhirnya kesulitan memahami informasi mana yang paling penting dan tindakan apa yang seharusnya dilakukan setelah melihat website.
Tujuan website sebaiknya ditentukan sebelum struktur dan desain dibuat. Apakah website digunakan terutama untuk memperkenalkan perusahaan, mendapatkan leads, mendukung proses penjualan, memberikan informasi produk, atau menjalankan fungsi tertentu?
Jawaban tersebut akan memengaruhi struktur halaman, jenis konten, navigasi, dan CTA yang digunakan.
Website yang memiliki tujuan jelas juga lebih mudah dievaluasi setelah diluncurkan. Perusahaan dapat melihat apakah website benar-benar membantu mencapai tujuan yang sudah ditentukan, bukan hanya menilai apakah desainnya terlihat menarik.
Terlalu Fokus pada Tampilan
Desain visual memang penting karena menjadi bagian pertama yang dilihat pengunjung. Namun, website perusahaan tidak seharusnya dibangun hanya berdasarkan tampilan.
Website dapat terlihat modern tetapi tetap sulit digunakan jika navigasinya membingungkan, informasi penting tersembunyi, atau pengunjung harus melewati terlalu banyak bagian sebelum menemukan apa yang mereka butuhkan.
Masalah serupa dapat terjadi ketika desain mengikuti tren tanpa mempertimbangkan karakter perusahaan. Animasi yang terlalu banyak, elemen visual yang berat, atau layout yang tidak memiliki hierarki informasi yang jelas dapat mengganggu pengalaman pengguna.
Desain seharusnya membantu menyampaikan informasi, bukan mengambil alih fungsi utama website. Karena itu, keputusan visual perlu dibuat bersama pertimbangan struktur konten dan user experience.
Struktur Informasi Tidak Direncanakan dengan Baik
Pengunjung datang ke website dengan kebutuhan informasi yang berbeda. Ada yang ingin mengetahui layanan, mencari portfolio, memeriksa profil perusahaan, atau langsung mencari informasi kontak.
Jika struktur website tidak direncanakan sejak awal, informasi tersebut dapat tersebar tanpa hubungan yang jelas. Menu menjadi terlalu panjang, halaman memiliki isi yang tumpang tindih, atau informasi penting justru sulit ditemukan.
Perencanaan struktur sebaiknya dimulai dari kebutuhan pengunjung. Tentukan informasi utama, kelompokkan berdasarkan topik, kemudian susun hubungan antarhalaman.
Untuk company profile website, misalnya, profil perusahaan, layanan, portfolio, dan kontak memiliki fungsi berbeda dalam perjalanan pengunjung. Struktur yang baik membantu pengunjung berpindah dari satu informasi ke informasi berikutnya tanpa kehilangan konteks.
Pembahasan mengenai fungsi dan struktur company profile website dapat membantu ketika menentukan informasi apa saja yang perlu disediakan.
Mengabaikan Pengalaman Pengguna di Mobile
Website perusahaan yang terlihat baik di layar desktop belum tentu memberikan pengalaman yang sama pada smartphone.
Pengunjung mobile membutuhkan navigasi yang mudah digunakan, teks yang dapat dibaca, tombol dengan ukuran yang memadai, serta layout yang dapat menyesuaikan ukuran layar.
Kesalahan yang umum terjadi adalah menganggap tampilan mobile hanya sebagai versi kecil dari desain desktop. Padahal, cara pengunjung berinteraksi dengan website dapat berbeda ketika menggunakan layar yang lebih kecil.
Karena itu, responsive design perlu dipertimbangkan sejak tahap perencanaan dan desain. Struktur konten, navigasi, gambar, dan CTA harus tetap dapat digunakan dengan nyaman pada berbagai ukuran layar.
Website yang tidak nyaman digunakan di mobile dapat membuat pengunjung meninggalkan halaman sebelum menemukan informasi yang sebenarnya ingin mereka cari.
Website Terlalu Lambat
Kecepatan akses menjadi bagian penting dari pengalaman pengunjung. Website yang membutuhkan waktu terlalu lama untuk menampilkan konten dapat membuat pengunjung meninggalkan halaman sebelum informasi utama terlihat.
Masalah performance dapat berasal dari berbagai hal, seperti gambar berukuran terlalu besar, script yang tidak diperlukan, konfigurasi server, struktur kode, atau terlalu banyak komponen yang dimuat pada halaman.
Karena penyebabnya dapat berbeda, optimasi tidak cukup dilakukan dengan sekadar memperkecil ukuran gambar. Performance sebaiknya diperhatikan sejak proses perencanaan dan pengembangan agar struktur website tidak menghasilkan beban teknis yang sebenarnya dapat dihindari.
Tidak Memikirkan SEO Sejak Awal
SEO sering baru diperhatikan setelah website selesai dibuat. Akibatnya, struktur halaman, URL, heading, konten, maupun elemen teknis tertentu sudah terlanjur dibuat tanpa mempertimbangkan bagaimana mesin pencari memahami website.
SEO tidak berarti setiap bagian website harus dipenuhi keyword. Struktur yang jelas justru membantu pengunjung maupun mesin pencari memahami hubungan antarhalaman.
Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan sejak awal antara lain struktur navigasi, hierarchy heading, URL, metadata, internal linking, performa, dan kualitas konten.
Pendekatan ini juga membuat pengembangan website lebih siap ketika perusahaan ingin membangun visibilitas organik dalam jangka panjang.
Memilih Platform Hanya Berdasarkan Harga
Harga awal sering menjadi pertimbangan ketika perusahaan mencari solusi website. Namun, menjadikan harga sebagai satu-satunya dasar pemilihan dapat menimbulkan masalah pada tahap berikutnya.
Platform yang lebih murah belum tentu menghasilkan biaya keseluruhan yang lebih rendah jika kemudian membutuhkan banyak customisasi, plugin tambahan, integrasi, atau perbaikan teknis.
Sebaliknya, menggunakan solusi custom untuk kebutuhan yang sebenarnya sederhana juga dapat membuat ruang lingkup proyek menjadi lebih besar dari yang diperlukan.
Pilihan platform sebaiknya mengikuti kebutuhan website. Faktor seperti fleksibilitas, fitur, pengelolaan konten, integrasi, maintenance, dan rencana pengembangan perlu dipertimbangkan bersama.
Perbandingan antara website custom dan WordPress dapat menjadi referensi ketika perusahaan sedang menentukan pendekatan pengembangan yang sesuai.
Tidak Memikirkan Maintenance Setelah Launching
Peluncuran website bukan akhir dari proses. Website tetap membutuhkan pemeliharaan agar sistem, konten, dan komponen teknis tetap berjalan dengan baik.
Pada website yang menggunakan CMS, misalnya, pembaruan platform, theme, dan plugin perlu diperhatikan. Website juga dapat membutuhkan backup, monitoring, security update, bug fixing, atau pembaruan konten.
Untuk website custom, kebutuhan maintenance mengikuti teknologi dan arsitektur sistem yang digunakan. Dukungan teknis mungkin diperlukan ketika perusahaan ingin melakukan perubahan atau menambahkan fitur baru.
Mengabaikan maintenance sejak awal dapat membuat perusahaan kesulitan ketika masalah muncul. Karena itu, rencana pengelolaan setelah website diluncurkan sebaiknya sudah dipertimbangkan ketika proyek masih berada dalam tahap perencanaan.
Membuat Website Tanpa Memikirkan Pengembangan Berikutnya
Kebutuhan website dapat berubah setelah perusahaan berkembang. Layanan baru, target pelanggan baru, integrasi dengan sistem lain, atau kebutuhan fitur tambahan dapat muncul beberapa bulan atau tahun setelah website diluncurkan.
Website yang dibangun tanpa mempertimbangkan kemungkinan perkembangan tersebut dapat menjadi sulit diperluas. Perubahan sederhana mungkin membutuhkan modifikasi besar karena struktur awal tidak dirancang untuk mendukung kebutuhan baru.
Bukan berarti website harus dibuat serumit mungkin sejak awal. Yang dibutuhkan adalah perencanaan yang proporsional terhadap kebutuhan saat ini sambil mempertimbangkan arah pengembangan yang cukup masuk akal.
Tidak Melibatkan Kebutuhan Bisnis dalam Proses Development
Website seharusnya tidak hanya dibangun berdasarkan brief desain atau daftar halaman. Tim pengembangan perlu memahami bagaimana website akan digunakan dalam konteks bisnis.
Informasi mengenai target pengguna, layanan utama, proses komunikasi dengan calon pelanggan, kebutuhan internal, integrasi, hingga pengelolaan konten dapat memengaruhi keputusan teknis.
Semakin jelas kebutuhan tersebut sejak awal, semakin mudah menentukan struktur dan prioritas fitur. Sebaliknya, kebutuhan yang terus berubah karena belum pernah dibahas secara menyeluruh dapat membuat scope proyek melebar dan timeline menjadi sulit dikendalikan.
Mengabaikan Pengujian Sebelum Website Diluncurkan
Website yang terlihat baik pada perangkat developer belum tentu bebas masalah ketika digunakan oleh pengunjung.
Pengujian perlu dilakukan untuk memastikan halaman, navigasi, formulir, tombol, link, tampilan mobile, dan fungsi lainnya berjalan sesuai kebutuhan. Aspek seperti browser compatibility dan performance juga perlu diperiksa sesuai ruang lingkup proyek.
Testing yang dilakukan sebelum launch membantu menemukan masalah ketika perbaikannya masih relatif mudah. Menemukan bug setelah website digunakan oleh pelanggan dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap pengalaman pengguna.
Bagaimana Menghindari Kesalahan Saat Membuat Website?
Menghindari masalah tersebut tidak berarti proyek harus dibuat lebih kompleks. Kuncinya adalah memastikan keputusan penting sudah dibahas sebelum development dimulai.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan perusahaan:
- Tentukan tujuan website dan target pengunjung.
- Susun struktur informasi sebelum desain dibuat.
- Tentukan fitur berdasarkan kebutuhan bisnis.
- Pilih platform berdasarkan kebutuhan, bukan hanya harga.
- Pertimbangkan mobile experience dan performance sejak awal.
- Siapkan struktur yang memungkinkan website dikembangkan sesuai kebutuhan.
- Tentukan bagaimana website akan dikelola setelah launch.
- Lakukan testing sebelum website dipublikasikan.
Perencanaan yang baik membantu mengurangi perubahan besar di tengah proyek sekaligus memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai ruang lingkup pengembangan.
Website perusahaan pada akhirnya perlu bekerja sebagai bagian dari bisnis, bukan hanya sebagai tampilan digital. Ketika tujuan, struktur, teknologi, pengalaman pengguna, dan maintenance dipertimbangkan sejak awal, kemungkinan website dapat digunakan dan dikembangkan dengan lebih baik akan semakin besar.
Jika perusahaan sedang merencanakan website development atau ingin memperbaiki website yang sudah ada, pendekatan pengembangan sebaiknya dimulai dari kebutuhan bisnis dan ruang lingkup yang jelas. Bali Gatra menyediakan layanan Website Development untuk membantu perusahaan mengembangkan website sesuai kebutuhan tersebut.
Bagi perusahaan yang sedang menyusun rencana website baru atau mengevaluasi website yang sudah berjalan, konsultasikan kebutuhan proyek Anda untuk membahas struktur, fitur, dan pendekatan pengembangan yang sesuai.















