Website perusahaan dapat memiliki banyak informasi tanpa menjadi website yang efektif. Masalahnya sering bukan pada kurangnya konten, melainkan pada bagaimana informasi tersebut disusun dan dihubungkan. Ketika pengunjung harus membuka terlalu banyak halaman untuk menemukan layanan, portfolio, atau kontak, website menjadi lebih sulit digunakan.
Struktur website perusahaan menentukan bagaimana pengunjung berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya. Struktur yang baik membantu perusahaan menyampaikan informasi secara lebih terarah, sekaligus memberikan jalur yang jelas dari pengenalan perusahaan hingga tindakan yang diharapkan, seperti menghubungi tim atau meminta konsultasi.
Karena itu, struktur sebaiknya direncanakan sebelum proses desain dan pengembangan website dimulai. Penentuan halaman, navigasi, hubungan antarhalaman, dan prioritas informasi akan memengaruhi pengalaman pengguna serta cara website mendukung tujuan bisnis.
Mengapa Struktur Website Perusahaan Perlu Direncanakan?
Struktur website bukan sekadar daftar halaman yang muncul pada menu navigasi. Di dalamnya terdapat cara informasi dikelompokkan, hubungan antarhalaman, dan jalur yang dilalui pengunjung untuk menemukan informasi yang mereka butuhkan.
Salah satu konsep yang berkaitan dengan hal ini adalah information architecture, yaitu cara mengorganisasi dan menyusun informasi agar mudah dipahami serta ditemukan. Pada website perusahaan, information architecture membantu menentukan halaman apa yang perlu dibuat, bagaimana halaman tersebut dikelompokkan, dan bagaimana pengunjung berpindah di antaranya.
Struktur juga perlu mempertimbangkan user journey. Pengunjung yang baru mengenal perusahaan mungkin memulai dari homepage, kemudian melihat layanan, memeriksa portfolio, dan akhirnya menuju halaman contact. Pengunjung lain mungkin langsung datang melalui artikel blog atau halaman layanan dari mesin pencari.
Setiap halaman karena itu perlu memiliki fungsi yang jelas. Secara umum, fungsi tersebut dapat berupa:
- Memperkenalkan perusahaan.
- Menjelaskan produk atau layanan.
- Membangun kepercayaan melalui pengalaman dan portfolio.
- Memberikan informasi pendukung.
- Mengarahkan pengunjung menuju tindakan tertentu.
Hubungan antarhalaman juga harus dirancang sejak awal. Halaman layanan, misalnya, tidak seharusnya berdiri sendiri. Pengunjung perlu memiliki jalur yang masuk akal menuju portfolio, artikel pendukung, atau contact.
Halaman Apa Saja yang Umumnya Dibutuhkan?
Tidak ada jumlah halaman yang wajib berlaku untuk semua perusahaan. Namun, beberapa halaman umum dapat menjadi fondasi struktur website perusahaan yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bisnis.
1. Homepage
Homepage menjadi titik utama untuk memperkenalkan perusahaan secara ringkas. Halaman ini biasanya menjelaskan siapa perusahaan tersebut, apa yang ditawarkan, siapa targetnya, serta alasan mengapa calon pelanggan perlu mempertimbangkannya.
Homepage juga dapat berfungsi sebagai penghubung menuju bagian penting website seperti layanan, portfolio, dan contact.
2. About Us
Halaman About Us memberikan ruang untuk menjelaskan perusahaan secara lebih mendalam. Isinya dapat mencakup sejarah, pengalaman, nilai perusahaan, pendekatan kerja, tim, atau informasi lain yang relevan untuk membangun kepercayaan.
Untuk perusahaan yang menjual layanan profesional, halaman ini dapat membantu menjawab pertanyaan mengenai siapa yang akan menangani proyek dan pengalaman seperti apa yang dimiliki perusahaan.
3. Services
Halaman Services menjadi pusat informasi mengenai layanan yang ditawarkan perusahaan. Jika bisnis memiliki beberapa layanan, setiap layanan dapat dijelaskan secara ringkas di halaman utama dan dikembangkan menjadi section atau halaman khusus sesuai kebutuhan.
Untuk Bali Gatra, misalnya, halaman Services mencakup Website Development, Web App Development, Mobile App Development, dan Website Maintenance.
Pembagian tersebut membantu pengunjung memahami pilihan layanan tanpa harus mencampurkan seluruh informasi dalam satu halaman.
4. Portfolio atau Case Study
Portfolio berfungsi menunjukkan pengalaman nyata perusahaan. Pengunjung tidak hanya mendapatkan informasi mengenai layanan, tetapi juga dapat melihat jenis proyek dan solusi yang pernah dikerjakan.
Format case study dapat dibuat lebih mendalam dengan menjelaskan tantangan, solusi, hasil, serta teknologi yang digunakan. Dengan demikian, portfolio tidak sekadar menjadi galeri gambar.
5. Blog
Blog berfungsi sebagai pusat informasi dan dapat mendukung strategi SEO. Kontennya dapat menjawab pertanyaan yang muncul sebelum seseorang menggunakan produk atau layanan perusahaan.
Blog juga dapat menjadi jalur masuk pengunjung dari search engine. Dari artikel, pengunjung kemudian dapat diarahkan ke halaman layanan yang relevan apabila konteksnya sesuai.
6. Contact
Halaman Contact menyediakan jalur bagi pengunjung yang sudah siap menghubungi perusahaan. Informasi dapat berupa formulir, WhatsApp, email, alamat, nomor telepon, atau metode komunikasi lain yang memang digunakan perusahaan.
Jalur menuju Contact sebaiknya tidak hanya tersedia melalui menu utama. CTA yang relevan dapat ditempatkan pada halaman layanan, portfolio, maupun artikel.
7. Halaman tambahan sesuai kebutuhan
Beberapa perusahaan membutuhkan halaman lain yang tidak selalu diperlukan oleh bisnis dengan struktur sederhana. Contohnya:
- Product atau service detail.
- FAQ.
- Industry solutions.
- Location page.
- Career.
- Pricing.
- Landing page untuk kampanye tertentu.
Halaman tambahan sebaiknya dibuat karena memiliki fungsi yang jelas, bukan hanya untuk menambah jumlah halaman.
Tidak Semua Perusahaan Membutuhkan Struktur yang Sama
Struktur website harus mengikuti kompleksitas bisnis. Website perusahaan yang hanya memiliki beberapa layanan tentu tidak membutuhkan struktur yang sama dengan perusahaan yang memiliki banyak divisi, produk, atau proses bisnis.
Untuk company profile sederhana, struktur dapat dibuat relatif ringkas: Homepage, About Us, Services, Portfolio, Blog, dan Contact. Struktur seperti ini sudah cukup jika tujuan utamanya adalah memperkenalkan perusahaan dan membangun kredibilitas.
Perusahaan dengan banyak layanan mungkin membutuhkan halaman khusus untuk setiap kategori layanan. Pendekatan tersebut membuat pengunjung dapat langsung menemukan informasi yang lebih spesifik tanpa harus membaca satu halaman yang terlalu panjang.
Sementara itu, perusahaan dengan katalog produk, sistem booking, atau fitur khusus membutuhkan struktur yang lebih kompleks. Navigasi, kategori, filter, database, dan integrasi dapat menjadi bagian dari architecture website.
Pembahasan mengenai tujuan dan kebutuhan company profile juga berkaitan dengan company profile website. Jenis informasi yang ingin ditampilkan akan memengaruhi jumlah halaman dan cara setiap halaman saling terhubung.
Bagaimana Menentukan Urutan dan Navigasi?
Setelah mengetahui halaman yang dibutuhkan, langkah berikutnya adalah menentukan bagaimana pengunjung dapat mengaksesnya.
Prioritas informasi sebaiknya menjadi dasar navigasi. Halaman yang paling penting bagi pengunjung dan bisnis perlu lebih mudah ditemukan dibandingkan informasi pendukung yang jarang diakses.
Main navigation biasanya berisi halaman inti seperti About, Services, Portfolio, Blog, dan Contact. Tidak semua halaman harus dimasukkan ke dalam menu utama. Jika seluruh halaman dimasukkan sekaligus, navigasi dapat menjadi terlalu padat.
CTA juga perlu memiliki posisi yang jelas. Untuk website jasa, misalnya, tombol konsultasi atau contact dapat ditempatkan pada area yang mudah ditemukan tanpa mengganggu navigasi utama.
Breadcrumb dapat digunakan pada website dengan struktur yang lebih dalam. Elemen ini membantu pengunjung memahami posisi mereka, terutama ketika halaman memiliki beberapa tingkatan kategori.
Selain navigasi utama, internal linking membantu menghubungkan halaman yang memiliki hubungan konteks. Artikel mengenai layanan tertentu dapat mengarah ke halaman layanan tersebut, sementara halaman layanan dapat mengarahkan pengunjung ke case study atau artikel yang membantu mereka memahami kebutuhan dengan lebih baik.
Struktur Website Harus Mengikuti Tujuan Bisnis
Website bukan hanya kumpulan informasi perusahaan. Struktur yang dibuat harus mendukung apa yang ingin dicapai melalui website tersebut.
Jika tujuan utamanya adalah branding, homepage dan About Us perlu memiliki peran yang kuat dalam memperkenalkan identitas perusahaan dan membangun kepercayaan.
Jika tujuannya lead generation, halaman layanan dan Contact perlu mendapatkan jalur navigasi yang jelas. Pengunjung harus dapat memahami layanan yang ditawarkan sebelum diarahkan menuju konsultasi.
Untuk perusahaan yang menjual banyak produk atau jasa, struktur harus membantu pengunjung menemukan informasi yang paling relevan tanpa harus melewati halaman yang tidak berhubungan.
Sementara itu, jika website diarahkan untuk conversion, setiap halaman perlu memiliki hubungan yang jelas dengan tindakan berikutnya. CTA tidak harus selalu berupa tombol pembelian. Pada website B2B atau jasa profesional, CTA dapat berupa konsultasi, permintaan penawaran, atau menghubungi tim.
Dengan demikian, struktur website sebaiknya dimulai dari pertanyaan sederhana: apa yang perlu diketahui pengunjung dan tindakan apa yang diharapkan setelah mereka mengetahuinya?
Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Menyusun Struktur Website
Struktur yang tidak direncanakan dapat menimbulkan masalah meskipun desain visual website terlihat menarik. Beberapa kesalahan yang sering muncul antara lain:
Terlalu banyak menu
Semua halaman dianggap penting sehingga semuanya dimasukkan ke navigasi utama. Akibatnya, pengunjung justru kesulitan menentukan pilihan.
Informasi penting tersembunyi
Informasi layanan atau contact mungkin tersedia, tetapi membutuhkan terlalu banyak langkah untuk ditemukan. Kondisi seperti ini dapat menghambat perjalanan pengunjung.
Duplikasi halaman
Dua halaman dapat memiliki fungsi dan informasi yang hampir sama tanpa alasan yang jelas. Selain membingungkan pengguna, struktur seperti ini juga dapat menyulitkan pengelolaan konten.
Tidak ada jalur menuju Contact
Website berhasil menjelaskan perusahaan dan layanan, tetapi tidak memberikan jalur yang jelas bagi pengunjung yang ingin melanjutkan komunikasi. CTA dan contact seharusnya menjadi bagian dari perencanaan sejak awal.
Masalah-masalah tersebut juga berkaitan dengan berbagai kesalahan saat membuat website perusahaan. Struktur yang buruk sering kali bukan masalah desain semata, tetapi akibat kebutuhan bisnis dan user journey yang tidak dirumuskan sejak awal.
Struktur website yang baik pada akhirnya bukan tentang memiliki sebanyak mungkin halaman. Yang lebih penting adalah memastikan setiap halaman memiliki fungsi, informasi tersusun secara logis, dan pengunjung memiliki jalur yang jelas untuk berpindah dari satu kebutuhan ke kebutuhan berikutnya.
Struktur tersebut juga sebaiknya dipersiapkan dengan mempertimbangkan kebutuhan SEO sejak proses development. URL, hierarki halaman, navigasi, dan hubungan antarcontent dapat memengaruhi bagaimana website dipahami oleh search engine. Pembahasan lebih lanjut mengenai hal tersebut dapat dilihat pada artikel tentang website SEO-friendly.
Jika struktur sudah jelas, proses desain dan development dapat berjalan dengan scope yang lebih terarah. Sebaliknya, perubahan struktur setelah website selesai dikembangkan dapat membutuhkan pekerjaan tambahan karena layout, navigation, URL, dan konten mungkin perlu disesuaikan.
Untuk kebutuhan website yang membutuhkan perencanaan struktur, desain, fitur, hingga implementasi, pendekatan tersebut dapat menjadi bagian dari layanan pengembangan website. Struktur kemudian dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan bisnis, bukan sekadar mengikuti template yang sudah tersedia.
Jika Anda sedang merencanakan website perusahaan baru atau ingin memperbaiki struktur website yang sudah ada, tahap awal yang paling berguna adalah memetakan informasi, prioritas halaman, user journey, dan tujuan bisnis. Dari sana, struktur website dapat disusun sebelum masuk ke tahap desain dan development. Konsultasikan kebutuhan website Anda untuk menentukan struktur yang sesuai dengan kebutuhan proyek.















